Skip to content

Wih! PKS 65% Saksi SBY di Lampung

Juni 29, 2009

INILAH.COM, Bandarlampung – Upaya PKS untuk memenangkan pasangan SBY-Boediono tampaknya semakin ingin ditunjukkan. Setidaknya, hal itu terlihat di Lampung, di mana sekitar 65% saksi pemanangan berasal dari PKS dan hanya 35% berasal dari Partai Demokrat.

“Para saksi tersebut akan menyebar di 14.767 TPS di Lampung, serta di PPS, dan KPU,” kata juru bicara Tim Kampanye Daerah (Timkamda) Lampung untuk SBY-Boediono, Fajrun Najah Ahmad, di Bandarlampung, Jumat (27/6).

Ia menjelaskan, untuk saat ini selama dua hari ada 44 peserta timkamda kabupaten/kota se-Lampung mengikuti pembekalan terkait saksi, di Bandarlampung. “Mereka nantinya langsung menularkan informasi ke seluruh saksi di daerahnya,” kata dia.

Ketua Timkada Lampung untuk SBY-Boediono Zulkifli Anwar yang membuka kegiatan tersebut menekankan perlunya saksi memahami dan menyadari beratnya tugas dan tanggung jawab. “Saksi menjadi penentu tetap terjaganya suara rakyat. Saksi harus benar-benar amanah dan tidak boleh lengah,” kata dia. [*/nuz]

Hargai Fatsoen Politik, PKS Tak Incar Mendiknas & Menag

Juni 29, 2009

Detik Pemilu

Jakarta – PKS membantah mengincar kursi Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) dan Menteri Agama (Menag). Partai dakwah ini mengaku sangat menghargai fatsoen politik yang berlaku selama ini kalau Mendiknas jatahnya Muhammadiyah dan Menag jatahnya NU.

“Kita menghargai fatsoen itu. PKS enggak akan minta Menteri Agama,” ujar Wasekjen PKS Zulkiflimansyah di Gedung DPR, Jakarta, Jumat (26/6/2009).

Hal itu disampaikan dia membantah gosip PKS meminta kursi 2 kementrian itu dalam portofolio kabinet yang diajukan PKS ke SBY. Zul, demikian dia biasa disapa, mengatakan, hal yang serupa juga berlaku untuk kursi Mendiknas. PKS yakin tidak akan diberikan kursi itu.

“Minta Mendiknas juga tidak benar itu. Saya kira Pak SBY punya bacaan lah, PKS enggak akan dikasih itu,” katanya.

Zul menambahkan, selama ini PKS sangat memahami fatsoen politik yang sudah ada. Hal itu dilakukan karena PKS memiliki komitmen ingin berkembang bersama dengan elemen-elemen lainnya.

Fatsoen politik yang berkembang selama ini, jatah kursi 2 kementrian itu memang milik 2 ormas Islam terbesar. Menag biasanya “jatah” Nahdlatul Ulama (NU), sementara Muhammadiyah “dijatah” kursi Mendiknas.
( Rez / yid )

Isu Istri Boediono Katolik Keraguan PKS Sirna Usai Lihat Herawati Salat Jamaah

Juni 28, 2009

Reza Yunanto – detikPemilu

Jakarta – Isu Herawati Boediono beragama Katolik sempat menimbulkan keraguan di kalangan kader Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Namun, setelah melihat istri cawapres Boediono itu salat berjamaah, keraguan itu akhirnya sirna.

“Yang ditanyakan kader kita bener enggak (beragama Katolik) itu. Daripada dijawab lalu kita hadirkan dia di pertemuan. Ketika dia salat jamaah, akhirnya sirna juga,” ujar Wasekjen PKS Zulkiflimansyah.

Hal ini disampaikan Zul, sapaan akrabnya, terkait isu kader PKS meragukan keislaman Herawati Boediono, di Gedung DPR, Jakarta, Jumat (26/6/2009).

Zul kemudian menjelaskan bahwa PKS tidak pernah tahu siapa yang menghembuskan isu Herawati beragama Katolik itu. Namun, menurut Zul, isu itu memang ditujukan untuk mendiskreditkan pasangan SBY-Boediono.

“Kita enggak bisa membuktikan siapa yang menyebarkan, tapi tentu itu untuk mendiskreditkan SBY-Boediono,” jelas wakil ketua FPKS ini.

Zul malah berpikir, jangan-jangan isu itu sengaja dihembuskan untuk melihat responnya.

“Makanya lalu Ibu Herawati dihadirkan dalam pertemuan kemarin,” ungkapnya.

Pertemuan Herawati Boediono dengan kader PKS itu berlangsung Kamis kemarin (25/6), di Cibubur, Jakarta Timur. Herawati hadir dalam acara yang digelar Persaudaraan Muslimah (Salimah), salah satu sayap organisasi PKS. Dalam pertemuan itu Herawati tampil berkerudung.

Hah! 50% Suara PKS ke JK-Win

Juni 28, 2009

INILAH.COM, Medan – Ketidaksolidan PKS dinilai akan menjadi bumerang bagi pasangan pengusung SBY-Boediono. Bahkan ditengarai sekitar 30%-50% potensi suara PKS berpaling ke pasangan JK-Win.

“Perpecahan di tubuh PKS bukan lagi sekadar isu, tapi sudah terasa. Khususnya di tingkat akar rumput,” ujar pengamat politik Universitas Sumatera Utasa (USU) Warjio, di Medan, Minggu (21/6).

Ia mengatakan, isu ‘jilbab loro’ para istri capres-cawapres relatif efektif memecah suara PKS di tingkat akar rumput. Sedangkan langkah Presiden PKS, Tifatul Sembiring sejauh ini belum cukup mampu meyakinkan kader terutama di akar rumput.

Sebagai partai kader dan dakwah, menurut dia, arah suara PKS memang ditentukan oleh Majelis Syuro. Namun, tingkat kepatuhan untuk mengikuti keputusan Majelis Syuro itu hanya efektif berlaku di tingkat elit partai. Sementara di akar rumput sama sekali jauh berbeda.

“Suara kader PKS di akar rumput lebih cair dan tidak terlalu terikat dengan keputusan Majelis Syura,” terangnya.

Apalagi, tutur dia, PKS selama tiga kali pemilu mengalami perubahan yang cukup drastis. Partai yang berlambang setangkai padi diapit dua bulan sabit ini, belakangan terasa lebih bersikap pragmatis.

Kondisi tersebut, dikatakan dia, tidak bisa dielakkan, karena hasil pemilu mengharuskan PKS berkoalisi. Sehingga, konsekuensinya terjadi perbedaan pandangan antara elit partai dan akar rumput. Dijelaskan dia, suara PKS di akar rumput sebenarnya tidak setuju dengan SBY karena berpasangan dengan Boediono.

“Masalah jilbab cukup signifikan dalam pandangan kader tersebut karena bukan sekadar simbol,” jelasnya.

Karena itu, diingatkan Warjio, isu jilbab loro tersebut ini akan terus bergulir. Sehingga cukup menguntungkan pasangan JK-Wiranto dalam meraih dukungan dari kader PKS.

“Sebaliknya, soliditas suara PKS akan sangat tergantung sejauhmana pasangan SBY-Boediono meyakinkan kader yang tentunya dengan tindakan bukan sekadar wacana,” tandasnya. [*/jib]

PKS Bantah Turunkan Survei SBY

Juni 28, 2009

INILAH.COM, Jakarta – Elektabilitas SBY-Boediono mengalami penurunan sekitar 5% dalam waktu sebulan. Berdasarkan Survei Puskaptis, dukungan sebesar 5% itu ternyata beralih ke pasangan JK-Wiranto. PKS membantah, bila peralihan dukungan ke JK itu berasal dari kadernya.

“Tidak benar itu kalau kader PKS beralih mendukung JK-Wiranto. Kader PKS itu solid mendukung SBY-Boediono menang Pilpres 8 Juli nanti,” ujar Wakil Ketua PKS bidang politik Zulkieflimansyah kepada INILAH.COM, Jakarta, Senin (22/6).

Menurut Zul, meski tim kampanye nasional JK Win menggunakan simbol-simbol keagamaan Islam yang mampu mempengaruhi pilihan masyarakat muslim, namun tidak akan cukup mampu menggoyang soliditas PKS terhadap SBY-Boediono.

“Kader PKS itu tidak ada yang terpengaruh oleh kampanye dari JK Win. Semua kader sudah sadar kalau kampanyenya itu sama saja politisasi agama,” katanya.

Survei pertama Puskaptis dilakukan pada 11-17 Mei, menunjukkan Mega-Prabowo 24,29%, SBY-Boediono 57,39%, dan JK-Wiranto 12,27%. Sementara, di survei kedua pada 4-11 Juni, ternyata Mega-Prabowo mengalamai penurunan menjadi 22,17%, SBY-Boediono juga mengalami penurunan menjadi 52,15%. Sedangkan untuk pasangan JK-Wiranto, mengalami kenaikan sekitar 5% menjadi 17,20%. [mut/ton]

PKS Soal Isu Herawati: Cape Deeh!

Juni 28, 2009

INILAH.COM, Jakarta – PKS mengaku capek menjawab berbagai isu yang menerpa, termasuk soal selebaran fitnah terhadap istri Boediono, Herawati, mengenai agama Katolik yang dianutnya. PKS pun mengusulkan Herawati muncul memberikan klarifikasi. Kalau tidak, PKS bisa capeee deee!

“Ketimbang cape mejawab, mendingan hadirkan Ibu Boediononya saja langsung dalam dialog dan diskusi Islam bersama PKS. Maka dengan sendirinya isu itu dapat dimuntahkan,” kata Wasekjen PKS Zulkieflimansyah di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Jumat (26/6).

Anggota Tim Pemenangan SBY-Boediono ini mengatakan, isu istri Boediono penganut Katolik tidak mempengaruhi kader PKS. Karena isu itu tidak berkembang di kalangan internal partai bernomor 8 ini.

“Isu itu tidak menyebar di kalangan internal PKS. Sekarang kan lagi kampanye. Ya bisa saja ada orang yang berbuat fitnah seperti itu,” ujar anggota FPKS ini.

Menurut pria yang akrab disapa Zul ini, timses tidak ingin menuduh kalau pelakukanya dari salah satu tim pemenangan capres tertentu. Siapapun itu, seharusnya tidak melakukan tindakan yang mengandung unsur black campaign.

“Kalaupun dilaporkan, itu ada bagian timses yang bertindak melakukan itu (lapor),” imbuh dia.

Terkait apakah PKS menduga ada upaya memecah koalisi dengan Partai Demokrat lewat isu agama itu, Zul mengaku tak meyakininya. “Saya kira tidak sejauh itu. Tak memecah belah ke situ. Kita dalam berpolitik di kampus juga sama, apalagi di sini (pilpres),” pungkasnya.

Selebaran yang beredar merupakan halaman Indonesia Monitor yang memuat wawancara dengan Presiden Ikhwanul Muslimin Indonesia (IMI) Habib Husein Al Habsyi. Dituliskan, dia geram ketika parpol-parpol Islam tetap berkoalisi mendukung SBY meski yang dipilih sebagai cawapres bukan dari kalangan parpol Islam. “Apa PKS tidak tahu kalau istri Boediono itu Katolik,” ujar Habib Husein. [ikl/sss]

Selebaran Istri Boediono Katolik Tim SBY-Boediono: Jelas-jelas Fitnah, Kampanye Hitam

Juni 27, 2009

Rabu, 24/06/2009 16:30 WIB
Novi Christiastuti Adiputri – detikPemilu

Jakarta – Selebaran istri cawapres Boediono Katolik dibagi-bagikan dalam kampanye Jusuf Kalla (JK) di Medan. Berita ini kontan saja membuat tim sukses SBY-Boediono panas. Mereka menyebut, selebaran itu fitnah.

“Ini jelas-jelas fitnah, kampanye hitam,” kata juru bicara tim sukses SBY-Boediono, Rizal Mallarangeng di Bravo Media Center (BMC), Jalan Teuku Umar, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (24/6/2009).

Rizal mengatakan, bukti adanya selebaran itu didapatnya dari rekaman berita di televisi. Rekaman gambar tersebut juga diputar dalam konfensi pers.

“Kami menggunakan bukti rekaman di TVOne pukul 12.07 WIB,” kata Rizal.

Dalam rekaman tersebut digambarkan seorang ibu yang tengah memegang selebaran. Setelah di zoom in, selebaran itu terdapat tulisan ‘Habib Hussein al Habsy, apa PKS tidak tahu istri Boediono Katolik’.

“Jelas ada buktinya ini dengan sengaja dibagikan ke dalam ruangan yang ada wapres (JK) yang saat itu sedang berkampanye sebagai calon presiden,” kata Rizal. ( ken / iy )

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.